Tradisi “Ngabungbang” di Pasarean Keramat Raden Santri Wijaya Kusuma Kemang Bogor

SERAMBINUSANTARA.com, Bogor – Majelis Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Yayasan At-Tawassuth menggelar ritual adat Sunda Ngabungbang di Pasarean Keramat Raden Santri Wijaya Kusuma, Kampung Bojong Lebak, RT 03, RW 8, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Selasa malam (3/10/2023).

Pelaksanaan ngabungbang yang bertepatan dengan tanggal 18 Rabiul Awal 1445 H diawali dengan mandi untuk menyucikan diri di mata air Cikahuripan pancuran keramat Raden Santri, yang terletak di lembah hutan bambu sekitar 200 m timur komplek keramat pasarean, diikuti 15 orang jamaah.

Setelah mandi di pancuran keramat, para peserta ngabungbang melakukan ziarah Bersama ke makam keramat Raden Santri Wiaya Kusuma, leluhur masyarakat Desa Bojong, yang menjadi tujuan utama peziarahan di wilayah ini.

Seusai ziarah ke makam Raden Santri Wijaya Kusuma, para peserta ngabungbang melakukan dzikir dan pembacaan Manaqib Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Rangkaian kegiatan ngabungbang ditutup dengan ramah tamah dan makan-makan bersama untuk memupuk kebersamaan sesama jamaah majelis dzikir.

Kegiatan Haul dan Tabarruk Rambut Suci Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani QS yang diselenggarakan Yayasan At-Tawassuth pada Jumat, 11 Rabius Sani 1444 H/ 11 November 2022.

Ketua Yayasan At-Tawassuth selaku inisiator kegiatan, Ustadz Ahmad Fahir mengatakan, ngabungbang merupakan tradisi turun temurun masyarakat Sunda dalam memuliakan tanggal dan bulan kelahiran manusia paripurna teladan umat manusia, Nabi Muhammad SAW.

Ngabungbang merupakan ritual adat Sunda untuk membersihkan diri, menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada pencipta dengan bermunajat secara khusus, sebagai wujud syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sang pembawa Rahmat bagi alam semesta,” ujar Fahir.

Dia melanjutkan, tidak ada rahmat yang lebih besar melebihi dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. Oleh karenannya, bulan Mulud perlu dirayakan dan disyukuri sebagai ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

“Para Karuhun alias leluhur Sunda memberikan teladan dan menanamkan ajaran luhur melalui tradisi ngabungbang pada bulan Mulud, yaitu agar kita selalu mencintai Nabi Muhammad SAW di atas cinta pada keluarga dan umat manusia lainnya,” ujar Fahir.

Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan hadits Nabi, bahwa iman seorang Muslim tidak akan sempurna sampai ia menjadikan kecintaan kepada Rasul melebihi cinta pada keluarga dan semua manusia.

Majelis Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Yayasan At-Tawassuth aktif menyelenggarakan ngabungbang setiap bulan Rabiul Awal sejak tahun 2020, yang dipusatkan di Pasarean Keramat Raden Santri Wijaya Kusuma, Desa Bojong, Kemang, Kabupaten Bogor.

Rusmana