Mi Golosor, Kuliner Ramadhan Khas “Urang” Bogor

Jangan ngaku orang Bogor, kalau belum makan mi golosor. Demikian ungkapan yang kerap terdengar di masyarakat Bogor, tiap kali masuk Bulan Ramadhan. Sejak puluhan tahun silam Mi golosor telah menjadi kuliner Ramadhan khas “urang” Bogor.

Ya, bagi orang Bogor, mi golosor menjadi bagian tak terpisahkan saat buka puasa pada Bulan Ramadhan. Usai berbuka dengan yang manis, mi golosor dengan toping sambal kacang dan goreng bala-bala atau bakwan, adalah pilihan utama.

Meski di luar Ramadhan, mi golosor juga tersedia banyak di pasar dan dijual di warung-warung, tapi sensasi rasanya tak senikmat di kala Ramadhan.

Mi golosor terbuat dari tepung singkong atau aci yang dicampur dengan kunyit hingga berwarna kuning dan bertekstur licin. Cara memasaknya pun sangat mudah. Cukup dengan bumbu bawang merah, bawang putih, kemiri, garam, ditambah sayuran caisin atau kol. Trala, hasilnya luar biasa ‘ngeunah’. Tapi kalau salah teknis memasaknya, mi bisa hancur tak berbentuk.

Harganya relatif murah. Satu kilogram mi golosor mentah dihargai kurang dari Rp 20 ribu. Untuk keluarga kecil, cukup beli seperempat kilogram, sudah dapat banyak.

“Pokoknya mah mi golosor tiada duanya,” kata Dina (36), seraya mengangkat kedua jempol tangannya.

Bagi yang baru mau mencoba, tapi takut gagal dalam memasaknya, bisa membeli mi golosor siap santap. Harga satu porsi berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000. Sangat mudah ditemui.

Tak hanya di perkampungan, di kawasan kos-kosan yang banyak dihuni mahasiswa dari luar kota, juga banyak ditemukan penjual musiman.

Bahkan saking fenomenal, di Kota Bogor pernah digelar Festival Mi Golosor yang langsung dihadiri Walikota Bogor. Tak tanggung-tanggung, sejumlah ibu PKK salah satu kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal memasak hingga satu kwintal mi. Di akhir acara, festival ini menjadi pesta rakyat, karena semua bisa menikmati.

Nunung Munawaroh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *